PENGENALAN HIV

Berdasarkan laporan siaran pers dari Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, ada sebanyak 10 ribu orang yang mengidap HIV dalam jangka waktu Januari sampai Maret 2017. Kasus tertinggi dilaporkan terjadi pada kelompok usia 25-49 tahun (69.6%) yang diikuti oleh kelompok umur 20-24 tahun sebesar 17.6 persen.

Apa itu HIV ?

 

HIV (Human immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat menurunkan kekebalan tubuh penderitanya secara drastis. Kondisi ini memungkinkan penyakit, bakteri, virus, dan infeksi lainnya dengan mudah akan menyerang tubuh anda. Tidak seperti virus lainnya, HIV tidak bisa hilang sepenuhnya dari tubuh anda.

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah kondisi terparah dari penyakit HIV. AIDS ditandai dengan munculnya penyakit lain, seperti berbagai infeksi yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh anda.

Bagaimana Penularan HIV?

Penularan HIV terjadi saat darah, sperma, atau cairan vagina dari seseorang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain.

Hal ini dapat terjadi melalui berbagai cara, antara lain:

  1. Hubungan seks, Infeksi HIV dapat terjadi melalui hubungan seks baik melalui vagina maupun dubur (anal). Meskipun sangat jarang, HIV juga dapat menular melalui seks oral. Akan tetapi, penularan lewat seks oral hanya akan terjadi bila terdapat luka terbuka di mulut penderita, misalnya seperti gusi berdarah atau sariawan.
  2. Berbagi jarum suntik, Berbagi penggunaan jarum suntik dengan penderita HIV, adalah salah satu cara yang dapat membuat seseorang tertular HIV. Misalnya menggunakan jarum suntik bersama saat membuat tato, atau saat menggunakan NAPZA suntik.
  3. Transfusi darah, Penularan HIV dapat terjadi saat seseorang menerima donor darah dari penderita HIV.

Selain melalui berbagai cara di atas, HIV juga bisa menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Virus HIV juga dapat menular pada proses melahirkan, atau melalui air susu ibu saat proses menyusui.

Perhatikan, kontak sehari-hari seperti di bawah ini tidak akan membuat Anda tertular:

  • Menyentuh
  • Berjabat tangan
  • Berpelukan atau berciuman
  • Batuk dan bersin
  • Menggunakan kolam renang atau dudukan toilet
  • Berbagi sprei
  • Peralatan makan atau makanan
  • Hewan, nyamuk, atau serangga lainnya

Gejala awal HIV

Biasanya gejala awal HIV mirip dengan gejala flu. Berikut ada beberapa ciri HIV yang secara umum menandai infeksi virus di tahap awal:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Kelelahan terus menerus
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit tenggorokan
  • Ruam pada kulit
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Luka pada mulut
  • Luka pada organ intim
  • Sering berkeringan di malam hari
  • Diare

Gejala awal HIV umumnya timbul dalam waktu 1 sampai 2 bulan setelah terinfeksi. Bahkan menurut US Department of Health and Human Services, pada sebagian orang dapat terlihat pada dua minggu awal setelah terpapar. Namun, gejala awal ini tidak ditunjukkan pada semua orang. Ada beberapa orang yang justru tidak menunjukkan tanda-tanda ini, tetapi ternyata terinfeksi HIV. Itu sebabnya pengujian terhadap virus HIV sangat penting dilakukan.

Fase Infeksi HIV

 

Fase pertama HIV

Dikenal juga sebagai infeksi HIV primer atau disebut juga sindrom retroviral akut. Pada tahap ini, kebanyakan orang mengalami gejala mirip flu. Gejalanya juga sering kali mirip dengan infeksi saluran cerna atau saluran pernapasan.

Fase kedua

Ini adalah tahap laten klinis. Virus menjadi kurang aktif, meski masih dalam tubuh Anda. Anda tidak mengalami gejala apapun saat virus berkembang. Periode latensi ini bisa bertahan satu dekade atau lebih. Dalam periode laten yang bisa berlangsung hingga sepuluh tahun ini banyak orang tidak menunjukkan gejala apapun. Tahap inilah yang patut diwaspadai karena virus akan terus berkembang tanpa disadari.

Fase terakhir HIV

Fase terakhir HIV adalah AIDS. Di fase akhir ini, sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan parah dan rentan terhadap infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik ialah infeksi yang menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk.

Ketika HIV sudah berkembang menjadi AIDS, gejala seperti mual, muntah, kelelahan, dan demam baru bisa terlihat. Selain itu, penurunan berat badan, infeksi kuku, sakit kepala serta sering berkeringat di malah hari juga menandai AIDS pada tahapan awal.

Deteksi dini HIV

Untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi HIV, Anda bisa melakukan nya melalui tes darah. Periksakan status HIV Anda di dokter atau klinik yang memiliki laboratorium khusus. Bahkan, saat ini Anda dapat mendeteksi secara dini di rumah dengan alat bernama One Step HIV TEST yang sudah banyak tersedia di penjualan online atau apotek-apotek. Alat tersebut dapat membaca status HIV Anda melalui sample darah dalam 10 sampai 15 Menit.

Setiap orang yang aktif secara seksual (pernah dan/atau sering berhubungan seks) perlu menjalani tes apabila telah melakukan hubungan seks berisiko, seperti seks tanpa kondom. Pasangan yang merencanakan pernikahan dan kehamilan, dan wanita hamil juga perlu menjalani tes apabila termasuk berisiko tinggi terhadap HIV.

Anda disarankan untuk melakukan tes pertama minimal setelah 3 bulan melakukan aktivitas seksual berisiko untuk memastikan apakah benar Anda terjangkit HIV. Tes kedua dilakukan setelah 3 bulan dari tes yang pertama jika hasilnya menunjukkan hasil nonreaktif (negatif), yang terakhir dilakukan tiga bulan setelah tes kedua.

Ingat: mendapatkan hasil negatif dari tes pertama bukan berarti Anda lantas terbebas dari HIV. Tubuh umumnya akan mulai membentuk antibodi sekitar tiga minggu sampai 3 bulan setelah pertama kali terjangkit virus HIV. Periode ini disebut dengan periode jendela, yang bisa bertahan hingga 42 hari. Namun, seberapa cepat tubuh membentuk antibodi bisa berbeda antar satu orang dengan yang lainnya. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama atau bahkan lebih cepat dari tiga bulan.

Maka dari itu, Anda akan direkomendasikan untuk menjalani tes lanjutan berjangka setiap 3 bulan untuk memastikan diagnosisnya.

Pencegahan HIV

Untuk melindungi diri dari penularan HIV, Anda perlu paham benar bagaimana penularan HIV dapat terjadi. Dengan begitu, pencegahan pun dapat dilakukan.

Seperti:

  • Lakukan hubungan seks yang aman, yaitu dengan menggunakan kondom
  • Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang
  • Jangan pernah berbagi jarum atau alat suntik
  • Hindari menyentuh darah dan cairan tubuh orang lain
  • Terapkan pola hidup sehat
  • Lakukan olahraga dan istirahat teratur
  • Rutin melakukan pengecekan HIV jika melakukan perilaku beresiko (bisa dengan alat seperti One Step HIV Test sebagai deteksi awal atau memeriksakan diri ke dokter)

Khusus untuk wanita hamil, Anda akan ditawarkan untuk melakukan tes darah untuk HIV sebagai bagian dari pemeriksaan kandungan. Jika tidak diatasi, HIV dapat diturunkan dari ibu hamil ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Terapi HIV selama kehamilan mengurangi risiko ditularkannya HIV ke bayi.

Melengkapi diri Anda dengan pengetahuan terhadap HIV merupakan cara terbaik untuk mencegah risiko penularan HIV dan membantu orang-orang sekitar Anda dengan proses pengobatan penyakit. Hal ini juga dapat membantu orang dengan HIV untuk hidup secara sehat dan aman.